Ketika Etika Kita Makin Hilang

Mungkin mari kita bedakan dulu, antara etika dengan budaya pada sebuah negara karena bisa sedikit ambigu kalau bahas keduanya. 

Tulisan ini akibat dari kekesalan saya yang tertumpuk selama ini pada etika suatu lembaga atau bahkan perorangan yang mana saya punya urusan dengannya. Dan mungkin tulisan ini bisa menjadi dorongan kita sama sama jadi manusia lebih baik tak terkecuali saya.

ETIKA 

Dasar dari etika apa sih, menurut saya karena keresahan interaksi sosial yang terjadi maka terbentuk banyak macam etika. Tapi bagaimana jika ternyata bentuk solusi dari keresahan jadul itu ternyata pudar karena ulah manusia juga. beberapa etika yang akan saya bahas dibawah ini berasal dari pengalaman saya pribadi, yang sangat dasar untuk semua orang fahami. 

1. Ketika bertamu dan menerima tamu

Beberapa negara memang berbeda dalam menerapkan etika untuk bertamu dan menerima tamu, namun saya hanya akan bicara tentang Indonesia. Seperti saya bilang tadi, jauhkan la dari budaya, kita pakai logika untuk tetapkan etika.

Coba fahami cerita ini : (A diundang B)

"A bertamu ke rumah B, dan A mambawakan makanan ringan untuk B, jarak rumah A sangat jauh sehingga kedatangannya sangat jarang terjadi, perjalanan memakan waktu 1 jam, sekitar 20 Km jaraknya. dan B menerimanya dengan senang hati, namun ada yang aneh, B hanya memberi air putih tanpa menanyakan pendapat A ingin minum apa, makanan yang disajikan B juga sangat biasa bahkan bisa dibilang tidak bisa menyenangkan mata dan perut, A merasa kecewa karena..."

Bisakah kamu jawab karena apa?

Ya, karena A merasa kedatangannya tak dinantikan, tak dihargai juga rasa capek nya membuatnya merasa lapar sehingga merusak mood nya

Jika kamu menjawab sama, kamu ber etika, harusnya bagaimana?

Simak cerita ini

"A bertamu ke rumah B, dan A mambawakan makanan ringan untuk B, jarak rumah A sangat jauh sehingga kedatangannya sangat jarang terjadi, perjalanan memakan waktu 1 jam, sekitar 20 Km jaraknya. dan B menerimanya dengan senang hati bahkan B menyajikan makanan lezat untuknya membawakan es segar untuknya, belum cukup sampai situ, semua lauk pauknya dikeluarkan. A merasa tersentuh karena..."

Kamu tau karena apa...

Ya, karena A merasa dihargai, merasa dinantikan, lelahnya menempuh perjalanan tergantikan dengan jamuan dan sambutan hangan dari keluarga B, membuat A ingin kembali lagi dan mengundang B untuk makan besar kerumahnya.

Apa kesimpulannya teman teman. 

Ada yang bilang budaya masing-masing keluarga berbeda, ada yang bilang mungkin tidak ada makanan dirumahnya, meraka masih merintis jadi tidak ada uang untuk memberikan pelayanan itu.

Oke saya jawab, 

1. Saya sengaja menebalkan tulisan sebelumnya, "A diundang B" artinya B harusnya sudah mempersiapkan apa apa yang akan diberikannya pada A nanti. 

2. Masih merintis, lalu kenapa harus mengundang, bisa jumpa saja diluar untuk ngobrol. 

3. Kalau tidak ada uang, lebih baik tidak undang orang kerumah atau ajak keluar.

Lagi pula teman teman, saya punya teman yang tidak kaya, rumahnya sederhana tapi luar biasa penjamuannya, dalam hati saya berkata "suatu hari, jika dia kerumah, aku akan beri dia ini dan itu"

Bukan menjadi beban untuk menjamu tamu undangan, harusnya begitu. Tapi lucunya kebanyakan orang yang hidupnya lumayan diatas rata rata malah tidak pandai menjamu tamu. 

Ternyata etika tidak pandang bulu.

Pembahasan etika lainnya saya bahas ditulisan lainnya.

Mohon maaf dan terima kasih.


Komentar